Literasi Sederhana di Bawah Gubuk Tua

Literasi Sederhana di Bawah Gubuk Tua
Foto : Dokumentasi Pribadi


Hari ini, ketika jari-jari ini menggulir galeri ponsel yang sudah penuh sesak, aku berhenti pada dua foto. Bukan foto biasa. Dua gambar yang membawaku terbang melintasi waktu kembali ke 2015, di sebuah taman baca anak lentera ilmu.

Dua foto. Satu kenangan. Sebelas tahun yang lalu.

Di Bawah Gubuk Reok memperlihatkan pemandangan yang sangat sederhana mungkin terlalu sederhana untuk ukuran sekarang. Di bawah rumah gubuk reok tua, dengan dinding anyaman bambu yang sudah kecokelatan, berdirilah beberapa anak-anak Taman Baca. Mereka memakai baju sederhana: kaos oblong polos, alas kaki sandal jepit yang sudah mulai kusam, celana pendek yang tampak terlalu sering dicuci.

Tapi mata mereka? Mata mereka menyala.

Lantai tanah yang dingin menjadi tempat duduk mereka. Buku-buku bergambar diletakkan di pangkuan, ada yang sambil menyandarkan punggung ke tiang penyangga rumah. Sorot mata mereka serius namun riang seperti sedang menemukan harta karun di setiap lembar halaman. Sore itu, rintik hujan sesekali menembus celah-celah atap rumbia, tapi tak ada satu pun yang bergeming. Mereka asyik. Mereka larut. Mereka hidup dalam cerita.

Aku mengambil foto itu dengan santainya anak-anak berpose, agar tidak mengganggu konsentrasi mereka. Saat itu aku pikir, "Ini hanya sore biasa." Ternyata, sebelas tahun kemudian, foto ini menjadi salah satu harta paling berharga di galeriku.

Berdiri di Depan Pintu Luar Di sana mereka berdiri tegak berbaris dengan agak kikuk, tersenyum canggung di depan pintu luar taman bacaan anak. Pintu kayu tua dengan engsel berkarat menjadi latar belakang yang sempurna.

Tapi senyum mereka? Senyum itu tulus. Senyum polos yang hanya dimiliki anak-anak yang belum tahu beratnya dunia.

Di foto itu, aku berdiri di samping mereka lebih tinggi, terlihat lebih tua, tapi sejujurnya justru merekalah yang mengajariku banyak hal sore itu. Mereka mengajariku bahwa literasi tak butuh ruang ber-AC, tak butuh meja mahal, tak butuh perlengkapan canggih. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan, buku, dan hati yang terbuka.

Baju Sederhana, Hati yang Kaya

Melihat dua foto ini, aku tersenyum sekaligus terenyuh.

Baju mereka sederhana. Kaos polos, beberapa bahkan terlihat pirang karena terlalu sering dijemur. Sepatu? Banyak yang bertelanjang kaki. Namun saat buku dibuka, mereka menjadi kaya. Kaya akan imajinasi, kaya akan pertanyaan-pertanyaan cerdas, kaya akan tawa yang menggema di bawah gubuk reok itu.

Aku ingat si kecil yang bertanya, "Kak, kenapa di buku ini langitnya biru, tapi langit di sini sekarang mendung?" Aku menjawab seadanya, lalu dia terdiam, menatap langit, dan berkata, "Berarti buku ini salah ya?" Kami tertawa. Bukan karena salah, tapi karena dia berpikir. Itu literasi ketika sebuah buku memicu pertanyaan, bukan sekadar menerima.

Literasi Sederhana di Bawah Gubuk Tua
Foto : Dokumentasi Pribadi


Dari 2015 ke 2026: Kemana Mereka Sekarang?

Anak-anak kecil dalam foto itu sekarang sudah remaja. Beberapa duduk di bangku kuliah, ada yang sudah merantau ke kota, dan beberapa aku dengar masih gemar membaca.

"Wah, Kak, aku masih ingat sore itu! Aku pinjam buku tentang kura-kura, dan aku baca berulang kali sampai hafal di luar kepala. Sekarang aku suka menulis cerita pendek, mungkin karena sejak kecil sudah dikenalkan sama buku."

Air mata hangat menetes. Ternyata, kegiatan kecil sebelas tahun lalu meninggalkan jejak yang tak terduga. Sebuah jejak yang mungkin akan terus berlanjut ke generasi berikutnya.

Gubuk Reok yang Kini Mungkin Berbeda

Rumah gubuk reok tua itu? masih berdiri hingga saat ini. Tapi dalam ingatan, dalam foto, ia tetap abadi. Dinding anyaman bambunya, tiang-tiang kayu yang sudah lapuk, pintu berengsel berkarat semua itu adalah panggung bagi momen-momen literasi paling berharga dalam hidupku.

Kadang aku berpikir, apakah literasi di era sekarang masih semeriah dulu? Anak-anak kini lebih akrab dengan layar ponsel daripada buku fisik. Tapi lalu aku teringat: literasi bukan soal medianya. Ini soal api rasa ingin tahu yang menyala di dalam hati. Dan api itu, selama masih ada yang menyalakan, akan terus menyala di mana pun, kapan pun, dengan cara apa pun.

Pesan dari Masa Lalu untuk Masa Kini

Jika ada satu hal yang ingin kukatakan dari dua foto ini, itu adalah:

Jangan remehkan momen-momen kecil. Sore yang tampaknya biasa, di bawah gubuk reok, dengan baju sederhana dan buku-buku usang itulah yang sering kali menjadi fondasi terbesar dalam hidup seseorang. Entah bagi adik-adik itu, ataupun bagiku sendiri.

Aku mengunggah ulang dua foto itu hari ini. Bukan untuk pamer. Bukan untuk nostalgia kosong. Tapi untuk mengingatkan diriku dan siapa pun yang melihatnya bahwa kebahagiaan sejati sering datang dalam balutan kesederhanaan.

Di bawah gubuk reok tua. Dengan baju seadanya. Dengan buku-buku yang sampulnya sudah mulai robek. Di sanalah literasi menemukan maknanya yang paling murni.

Dan aku bersyukur, sebelas tahun kemudian, masih ada foto-foto ini untuk membisikkan kenangan itu.

Untuk adik-adik di dua foto itu: kalian mungkin sekarang sudah besar. Tapi dalam ingatan ini, kalian tetap anak-anak polos yang membuat sore itu terasa begitu hidup. Terima kasih telah menjadi bagian dari cerita literasiku.

Dilihat 0 kali

💬 Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar !

Silakan masuk menggunakan akun Google Anda.

Memuat komentar...

$ok={Exit} $days={7}

Exit