Home » » Jangan Hanya Meminta Maaf, Tapi Jadilah Pribadi Pemaaf

Jangan Hanya Meminta Maaf, Tapi Jadilah Pribadi Pemaaf

Posted by Rbb Lentera Ilmu on Sunday, 2 July 2017

Sejak 29 Ramadhan kemarin (24 Juni 2017) kita telah menjumpai ucapan _Selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin_ atau kalimat kalimat serupa yang mengandung arti meminta maaf selain ada untaian kata doa dan ucapan selamat. Untaian kalimat-kalimat tersebut banyak diposting dalam group WA maupun sosial media lainnya dengan berbagai bentuk seperti kalimat -kalimat yang diketik sendiri, atau copas, ada pula dibuat video, dan berupa foto diri dan Keluarga. Tidak ada yang salah dalam postingan tersebut, justru inilah yang patut kita syukuri karena moment Idul Fitri ini kita dengan ringan hati bersedia meminta maaf kepada sesama. Beruntunglah ada Idul Fitri seperti tradisi di negara kita ini, saling bersilaturrahim kepada sanak keluarga dan sahabat juga tak lupa di moment ini kita meminta maaf atas segala salah dan khilaf.
Ketika kita berjumpa langsung dalam bingkai silaturrahim, selain meminta maaf kita juga ada kesempatan memberi maaf. Ungkapan ini akan nampak ketika ada permintaan maaf lalu dibalas dengan jawaban
“Iya, sama-sama, saya juga mohon maaf lahir dan batin”. Suatu interaksi berbalas memberi maaf ini paling mudah kita jumpai saat bersalaman atau berjumpa langsung.
Lalu, bagaimana saat kita belum ada kesempatan untuk berjumpa langsung? Sejak adanya handphone kita sudah menciptakan tradisi meminta maaf dengan media dan alat ini. Kita sudah terbiasa berSMS, bertelpon kemudian saat teknologi semakin canggih kita tinggal posting tulisan permohonan maaf kita ini di sosial media juga dalam group pertemanan, profesi dan keluarga seperti group WA.
Sepanjang yang saya saksikan di sosial media Idul Fitri ini dipenuhi oleh ungkpaan permohonan maaf dan sepertinya tidak sebanding dengan ungkapan pemberian maaf. Coba kita amati sejenak, berapa banyak ungkapan permohonan maaf di sosial media ini akan dibalas oleh yang lain dengan memberi maaf semisal
” Iya, saya maafkan” atau “Sama- sama” atau ” Iya, saya sudah memaafkan …” dan ungkapan lain yang serupa. Atau bahkan ada postingan yang langsung menunjukkan pemberian maaf, untuk yang terkahir ini saya menjumpai dalam group WA yang saya ikuti, yaitu WAG Pengurus Cabang Ikatan Sarjana NU ( ISNU) Jombang di mana yang posting adalah ketua ISNU Jombang dengan kalimat ini

“Saya terima permintaan maafnya dan bagi yg nulis di grup ataupun di japri maupun yang tidak menuliskan dan yang tidak mengucapkannya saya berikan maaf dan keridhoan pada semua”. Suatu postingan yang langka bagi saya, karena semua hampir membuat postingan “meminta maaf”.
Gus Hanan Majdy, Ketua ISNU Jombang ini justru lebih dari itu, ia memberi maaf, baik kepada yang meminta maaf maupun tidak meminta maaf via sosial media.
Ada pula postingan senada, saya temui di WAG Sarjana Jombang dengan pemilik akun WA Ariel Sibarongan sebagai berikut
“Koncoku, Sak mestine aku duwe salah, lan sak mestine aku njaluk sepuro, kabeh koncoku wis ta sepuro
من العاءدين
والفاءزين
امين”

Mungkin kita sempat prihatin juga, dari sekian postingan – postingan permohonan maaf, tidak semuanya dibalas dengan pemberian maaf, kalau di aplikasi facebook, mungkin yang sempat kita berikan ini hanya jempol “like”, boleh jadi karena memang keterbatasan waktu atau karena permohonan maaf ini dianggap suatu _kelumrahan_ di Idul Fitri, padahal kalau kita memastikan petunjuk Gusti Allah dalam Al-Qur’an, bahwa hanya ada perintah memaafkan. Mari kita amati ayat -ayat Alquran berikut ini
Bahwa memberi maaf adalah ciri orang bertaqwa:
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”) – (QS. Al-Imran: 133-134).

Dalam surat lainnya perintah agar menjadi pribadi pemaaf sebagai berikut.
“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” – (QS. Al-A’raf : 199).

Pemberian maaf dinilai sebagai tindakan baik dijelaskan sebagai berikut.
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” – (QS. Al-Baqarah : 263).

Allah adalah Dzat Yang Maha Pemaaf disebutkan dalam ayat berikut ini.
“Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Kuasa.” – (QS. An-Nisa : 149).

Kita memang dibolehkan untuk tidak memaafkan kepada orang yang berbuat jahat kepada kita dengan cara membuat pembalasan dengan kejahatan serupa, namun Allah menyuruh untuk memaafkan dan bersabar, sebagaimana ayat Qur’an berikut ini.
“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” – (QS. Asy-Syura : 43).

Meminta maaf di dalam Al-Qur’an tidak ditemukan ayat meminta maaf atas perbuatan yang telah kita perbuat kepada seseorang. Akan tetapi di dalam Al-Qur’an kita diajarkan untuk selalu meminta ampunan kepada Allah SWT, karena apabila kita berbuat kesalahan kepada orang lain, sesungguhnya kita telah berbuat dosa. Yang dapat mengampuni dosa-dosa kita adalah Allah SWT, sehingga kita meminta ampunan dari Allah SWT atas dosa kita tersebut.
“Dia berkata: “Hai kaumku mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum (kamu minta) kebaikan? Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat.” – (QS. An-Naml : 46).
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.”– (QS. Hud : 3).
Dalam hadist-hadist Nabi tentang Memaafkan kesalah orang lain juga disebutkan yang artinya sebagai berikut:
“Tidak halal apabila seorang Muslim menjauhi kawannya lebih dari tiga hari. Apabila telah lewat waktu tiga hari tersebut maka berbicaralah dengannya dan beri salam. Jika ia menjawab salam maka keduanya akan mendapat pahala dan jika ia tidak membalasnya maka sungguhlah dia kembali dengan membawa dosanya, sementara orang yang memberi salah akan keluar dari dosa.”(HR. Muslim).
“Pintu-pintu surga akan dibukakan pada hari Senin dan Kamis, lalu Allah akan memberi ampunan kepada siapapun yang tidak menyekutukan-Nya kecuali seorang laki-laki yang berpisah dengan saudaranya. Maka Allah berkata: tangguhkanlah kedua orang ini hingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini hingga ia berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini hingga mereka berdamai.” (HR. Muslim).
“Maukah aku ceritakan kepadamu mengenai sesuatu yang membuat Allah memualiakan bangunan dan meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab; tentu. Rasul pun bersabda; Kamu harus bersikap sabar kepada orang yang membencimu, kemudian memaafkan orang yang berbuat dzalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu dan juga menghubungi orang yang telah memutuskan silaturahmi denganmu.”(HR. Thabrani)
“Jika kamu membuat suatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan suatu kesalahan orang lain, maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” (HR. Bukhari)
Ini seharusnya bisa memahamkan kepada kita bahwa kita memberi maaf kepada orang yang berbuat salah kepada kita tidak harus menunggu orang tersebut meminta maaf. Perintah memberi maaf yang sangat dianjurkan ini tentunya terkandung makna agat kita tidak memiliki dendam kepada orang yang sempat menyakiti hati kita.
Sementara dalam budaya kita yang selalu minta maaf ini saya pahami suatu bentuk etika dalam menempatkan diri di tengah masyarakat, berupa pengakuan akan perilaku dan sikap serta ungkapan lisan dan tulisan yang tidak mesti benar sehingga kita merasa berkepentingan untuk meminta maaf jika kita sampai memasuki ranah kesalahan tersebut.

Pada akhir tulisan ini saya mencoba menggarisbawahi bahwa kita sebagai manusia yang tidak lepas dari salah agar tidak lupa untuk mengungkapkan pemberian maaf selain kita berkesempatan meminta maaf, ungkapan yang tulus dari dalam hati ini menjadi tanda keimanan kita kepada Allah SWT.
( Penulis: Astatik Bestari Mojowarno)

Terima kasih telah membaca artikel ini & dipublikasikan oleh Rbb Lentera Ilmu